Sajak dari Samudra

Gemilang kelap lampu kota
Mengecil seiring deru mobil yang
Melaju
Menjauh

Gelimang kelip lampu kota
Memudar seiring fajar yang
Menjelang
Memangsa

Pandang berganti
Roda berputar
Jempol yang terus
Menekan pedal akselerasi

Aku ingin pergi
Kemanapun tapi bukan kesana
Aku ingin tinggal
Dimanapun tapi bukan disana

Lihatlah awan-awan itu!!!
Mungkin ada UFO dibaliknya
Akan ditarik diriku
Lenyap dari planet ini selamanya

[Dan aku akan menyambutnya dengan riang]

“Oh UFO ayo culik aku!!
Bawalah aku bersamamu
Teleportasi ke semesta lain —
Tentunya pasti asyik!”

[Tentu saja seruan itu hanya menampar angin.]

Pandang diam.
Roda berhenti
Jempol yang akhirnya
Menekan pedal deserasi

[Kuucapkan.
Mantra.
Yang.
Membelengguku.
Disini.
Selamanya.]

“Ini Samudra, putra Angkasa,
Taatilah suaraku, buka jalan untukku”

Namun Senja kemudian menjelma
Semburatnya jingga menghangatkan
Membisikkan janji akan malam
Tempat ku bisa terlelap

Dan mungkin pada akhirnya,
Hari yang berbeda akan tiba….

Bersemayam

Aku, yang mengenalmu
Lebih dari siapapun
Panggil aku apapun:
Tuhan, setan, hati nuranimu!

Ketika sang surya mengecup selamat tinggal
Awan-awan berarak menghalangi bulan bintang penggantinya
Hiruk pikuk manusia berhenti menggumam

Kau disini, sendiri
Dalam imaji batin
Kemudian aku berbisik dalam benakmu
Bahwa aku ada bersamamu

Cengkeramanku menggenggam hatimu
Nafasku berhembus pada tengkukmu
Lalu kutunjukkan engkau
Intipati dari segenap hasrat jiwamu

Dan ketika sang surya kembali ke singgasananya
Awan-awan kabur terpencar ditiup angin
Hingar bingar kehidupan kini berlanjut

Kau disana, dalam lautan manusia
Bersama namun sendiri
Kemudian aku berbisik dalam benakmu
Bahwa aku masih bersamamu

Senyuman tipis menggaris wajahmu
Garis menjelma menjadi seringai
Aku terkekeh dan kau pun mengekeh
Kilau merah darah di sudut bola matamu

Panggil aku apapun:
Mercusuarmu, kegelapan hatimu!
Bayangmu, diri sejatimu
(dan aku akan selalu ada
kekal di kedalaman hampanya jiwamu)

☼ mencari mentari ☼

Katanya semua dimulai dari diri sendiri
Makanya aku mencoba jadi optimis
Kuulurkan tanganku padamu, sahabatku
“Marilah kita mencari mentari”, ujarku

Katanya kita harus menyelamatkan diri sendiri dulu
Tapi tentunya aku tak tega meninggalkanmu
Saat aku juga ikut berperan dalam kenegatifan ini
Jadi marilah, cari mentari bersama!

Meskipun merasa stagnan, kuyakin aku tumbuh perlahan
Betapa senang hatiku, ketika kulihat kau bertumbuh juga
Sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit
Mungkin kita bisa maju dan tahu apa yang kita inginkan

Mesin fotokopi yang dahsyat

buku mengajarkanku untuk bereaksi
emosi yang kukeluarkan bukanlah milik sendiri
karena aku ini mesin fotokopi yang dahsyat
mampu dengan lihai mengimitasi
apa yang dirasakan para pemeran dalam cerita-cerita itu

seharusnya aku merasakan apa?
aku membaca dan menonton
melihat mengamat dan meniru

karena cerita aku dapat menjadi manusia
jika ada A, maka aku harus memerankan reaksi B
jika ada C, maka aku harus merasakan D
tapi apa sebenarnya yang dipikir oleh hati?
mungkin hatinya tidak ada

saat orang berkata
terima kasih atas empatiku
sesungguhnya

aku

hanyalah

mesin

fotokopi

yang

dahsyat

春 [Haru]

Ketika mantel tebal ditanggalkan
Hamparan putih terganti jadi kepala pitak sang kakek beruban
Putih diseling cokelat basah becek
Kecipak kecipak kecipuk
Kecipuk kecipuk kecipak

Suatu waktu aku pernah berujar
Bahwa aku hanya butuh mentari
Namun ketika salju dilelehkan
Inti beku ini masih saja kekal
Dan haru di hati masih terjelma

Konon musim semi membawa harapan
Pembebasan dari musim dingin yang berkepanjangan
Menyambut kehidupan yang dilanjutkan
Namun jika bunga-bunga itu tak kunjung mekar
Akan kemanakah kita akan berharap?

Mungkin aku harus menunggu lebih lama